Featured Articles
Decoration
All Stories
Batu Kecil Membuat Kita Menengadah Kepada-Nya
Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak dapat mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak dapat mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.
Untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan orang tsb. Orang itu berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu kecil itu tepat mengenai kepala orang itu, dan karena merasa sakit, orang itu menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesan pentingnya.
Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah sering menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.
Seandainya …
Orang yang dilempari uang logam itu “menyadari” bahwa uang tersebut “jatuh dari atas”, tentunya dia akan menengadah ke atas sehingga pekerja tadi dapat menjatuhkan catatan pesan pentingnya dan “tidak perlu” menjatuhkan “batu kecil” tsb.
Demikian juga dengan kita.
Seandainya setiap rahmat yang diberikan Allah kepada kita, cukup mampu membuat kita menengadah kepadaNya. Tentunya Allah tidak perlu menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.
Tubuh kita, kesehatan kita, pengetahuan dan ilmu yang ada di pikiran dan hati kita, harta kita, dan semua yang kita anggap milik kita sesungguhnya adalah milik Allah, titipan Allah kepada kita.
Semua itu adalah rahmat yang diberikan Allah kepada kita. Seyogyanya kita (kami dan Anda) cukup mampu untuk “menengadah kepada-Nya” …. senantiasa bersyukur dan selalu ingat kepada “catatan penting” dari Allah, yaitu berkewajiban mengamalkannya sehingga “rahmat” tadi dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu kecil itu tepat mengenai kepala orang itu, dan karena merasa sakit, orang itu menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesan pentingnya.
Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah sering menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.
Seandainya …
Orang yang dilempari uang logam itu “menyadari” bahwa uang tersebut “jatuh dari atas”, tentunya dia akan menengadah ke atas sehingga pekerja tadi dapat menjatuhkan catatan pesan pentingnya dan “tidak perlu” menjatuhkan “batu kecil” tsb.
Demikian juga dengan kita.
Seandainya setiap rahmat yang diberikan Allah kepada kita, cukup mampu membuat kita menengadah kepadaNya. Tentunya Allah tidak perlu menjatuhkan “batu kecil” kepada kita.
Tubuh kita, kesehatan kita, pengetahuan dan ilmu yang ada di pikiran dan hati kita, harta kita, dan semua yang kita anggap milik kita sesungguhnya adalah milik Allah, titipan Allah kepada kita.
Semua itu adalah rahmat yang diberikan Allah kepada kita. Seyogyanya kita (kami dan Anda) cukup mampu untuk “menengadah kepada-Nya” …. senantiasa bersyukur dan selalu ingat kepada “catatan penting” dari Allah, yaitu berkewajiban mengamalkannya sehingga “rahmat” tadi dapat bermanfaat bagi banyak orang.
Temukan Percaya Diri
Menurut Weinberg dan GOuld yang dikutip oleh Zauderer dalam PezCyclingNews.com ( Mei 2008 ) ada 9 sumber percaya diri dalam situasi spesifik olahraga. Sumber-sumber tersebut adalah:- Mastery: Developing and improving skills in training and competition.
Penguasaan kemampuan teknik dan fisik merupakan salah satu bentuk sumber rasa percaya diri yang dominan. Atlet seringkali kehilangan rasa percaya diri karena merasa tidak cukup mampu untuk memenangkan pertandingan lantaran merasa tidak punya cukup teknik untuk mengalahkan lawan. Untuk itulah, para pelatih harus memperhatikan hal ini dengan baik. Keterampilan dan skill hanya bisa ditingkatkan melalui proses latihan dan kompetisi yang sehat.
- Demonstrating ability: Having success in competition.
Yang kedua adalah menunjukkan kemampuan dalam rangka memenangkan sesuatu di dalam kompetisi. Adalah sesuatu yang instingtif ketika seorang manusia mempunyai keinginan untuk “pamer”. Dalam konteks percaya diri, pamer ini bisa menjadi sumber rasa percaya diri yang baik untuk para atlet. Ketika pamer dan mendapat apresiasi dari orang lain, maka kemungkinan besar dia akan mendapatkan rasa yakin terhadap apa yang dia lakukan. Hal ini membawa konsekuensi bahwa seorang pelatih tidak bisa selalu menyalahkan dan memarahi atletnya, karena itu akan menjungkalkan rasa percaya dirinya. Hati-hatilah memilih ucapan. Memang tidak harus selalu dipuji, tapi sampaikan kritikan dengan cara yang sesuai.
- Getting the breaks: Seeing things going your way.
Keberhasilan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya rasa percaya diri seorang atlet. Orang tentu senang menyaksikan dirinya mendapatkan sesuatu dan melihat banyak hal berjalan sesuai dengan keinginan. Itulah yang mendasari munculnya Confidence. Keberhasilan tentu saja tidak hanya saat sedang berkompetisi, pelatih bisa menciptakan situasi tantangan yang harus dipecahkan oleh para pemainnya saat latihan. Semakin sering seorang atlet mendapat keberhasilan, maka rasa percaya dirinya akan meningkat. Tapi tentu saja harus dalam kontrol untuk menghindari over confidence.
- Seeing others perform successfully.
Menyaksikan orang lain mendapat keberhasilan seringkali memacu motivasi seseorang untuk melakukan hal yang sama. Ketika seorang atlet merasa termotivasi, maka bisa dikatakan bahwa sebenarnya dia sedang dalam rasa percaya diri yang tinggi. Contoh kasus adalah bersinarnya David Beckham di AC Milan. Tiba-tiba para pemain lain merasa sangat bersemangat untuk mencapai scudetto. Ucapan-ucapan yang sangat percaya diri muncul dari para pemain lain.
- Physical and mental preparation.
Persiapan fisik dan mental adalah syarat mutlak bagi seorang atlet disamping persiapan teknik. Persiapan fisik meliputi kesehatan, ketangguhan, kecepatan, poser dan sebagainya. Jika seorang atlet berada dalam kondisi fisik prima, maka dia akan merasa mampu menjalani pertandingan se ketat apapun. Sedangkan persiapan mental diantaranya meliputi motivasi, menghilangkan rasa takut atau kuatir, berpikir positif, dan konsentrasi. JIka persiapan mental dan fisik dijalani dengan benar, tidak mustahil si atlet akan menjadi orang yang sangat percaya diri mengandaskan lawan di lapangan.
- Social support: Encouragement from family and friends.
Jangan lupakan dukungan sosial untuk mendapatkan rasa percaya diri. Orang tua, keluarga, suami atau istri juga teman-teman memberi arti khusus bagi seseorang. Jika semua itu mendukung dengan jujur, maka tidak mustahil dia akan tampil kesetanan.
Belief/trust in your coach(es). Yakinlah pada pelatihmu! pelatih adalah orang yang paling tahu kondisi si atlet. Pelatihlah yang bertanggung jawab terhadap segala kondisi yang menyangkut atlet dalam rangka memenangkan sesuatu. Konsekuensi untuk para pelatih adalah mereka harus memberikan sesuatu yang sistematis dan memang benar-benar logis untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan bersama.
Belief/trust in your coach(es). Yakinlah pada pelatihmu! pelatih adalah orang yang paling tahu kondisi si atlet. Pelatihlah yang bertanggung jawab terhadap segala kondisi yang menyangkut atlet dalam rangka memenangkan sesuatu. Konsekuensi untuk para pelatih adalah mereka harus memberikan sesuatu yang sistematis dan memang benar-benar logis untuk mencapai sebuah tujuan yang diinginkan bersama.
- Body image: Feelings about body, strength, appearance, weight.
Persepsi akan diri sendiri lah yang menyebabkan rasa percaya diri itu muncul atau bahkan hilang. Jika seorang atlet terlanjut mempunyai persepsi yang tidak baik terhadap dirinya, maka rasa percaya diri juga akan berangsur-angsur menghilang. Oleh karena itu, penting bagi seorang atlet untuk mempunyai persepsi yang positif terhadap dirinya.
- Environmental comfort: Feeling comfortable where you’re performing.
Situasi dan lingkungan pertandingan yang nyaman juga menjadi sumber rasa percaya diri yang cukup dominan. Bayangkan ketika seorang pemain bulu tangkis harus bermain dalam suhu ruang yang panas atau ruangan yang berangin, apalagi jika melawan pemain tuan rumah yang dianggap sudah mengetahui situasi itu dengan baik. Lingkungan lain yang seringkali berpengaruh adalah kondisi suporter. Jika bermain dalam tekanan suporter yang tak terkendali, maka siapapun akan gentar, karena bukan lagi kualitas teknik yang dipertaruhkan. Oleh karena itu, tidak sembarang kompetisi bisa diikuti. Para pemain sepakbola Indonesia sering bermain dalam pertandingan tarkam yang kondisi lapangan, penonton dan segala perangkat pertandingannya tidak memadai. Bukan tidak mungkin, inilah yang menyebabkan para pemain itu gentar ketika bertemu dengan lawan dari luar negeri.
Sumber : untukku.com
Sumber : untukku.com
Alasan Superhero Tidak Mau Membantu Indonesia
Dengan meningkatnya tingkat kriminalitas di ibukota dewasa ini, pemerintah Indonesia telah mengirimkan proposal penawaran kerja kepada sejumlah superhero dari negara paman Sam. Proposal ini menawarkan suatu bentuk kerjasama dimana para superhero diminta kesediaannya untuk bekerja di Indonesia dalam kerjasama dengan Mabes Polri untuk memerangi kriminalitas yang marak terjadi di kota2 besar Indonesia , khususnya Jakarta.
Tetapi tidak diduga sejumlah besar superhero MENOLAK ajakan kerjasama ini. Berikut adalah alasan penolakan tersebut.
1. Batman (Bruce Wayne)
Bruce Wayne menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. ALasan beliau adalah DIA KEBERATAN MENANGGUNG PAJAK IMPOR BAT-MOBILE KE INDONESIA. BAYANGIN AJA PAJAK IMPOR MOBIL MEWAH YANG SELANGIT, APALAGI UNTUK BAT-MOBIL YANG SECANGGIH ITU.
2. Spiderman (Peter Parker)
Parker juga menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan DI INDONESIA HANYA ADA SEDIKIT SEKALI GEDUNG TINGGI, YANG MENYULITKAN DIA UNTUK BERGELANTUNGAN DARI GEDUNG KE GEDUNG. KALAUPUN ADA GEDUNG TINGGI, JARAKNYA TERLALU BERJAUHAN, SEHINGGA SANGAT MENYULITKAN. BELUM LAGI SAAT BERGELANTUNGAN, DIA TAKUT KECANTOL KABEL LISTRIK DAN TELEPON YANG BANYAK SEMRAWUTAN DI LANGIT-LANGIT KOTA BESAR INDONESIA
3. Invisible Woman (Susan Storm)
Menolak dengan alasan MINDER. Kemampuan menghilang yang dimilikinya masih jauh kalah dengan kemampuan menghilang orang-orang Indonesia. Berikut wawancara yang dilakukan dengan CNN. SAYA SIH HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SAYA SENDIRI. BANYAK ORANG DI INDONESIA YANG BUKAN HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SENDIRI, MALAHAN HUTANG, ASSET-ASET NEGARA YANG PERNAH DIKUASAI, SAMPAI HUTANG-HUTANG KORUPSI PUN BISA DIHILANGKAN JUGA. JADI SAYA MINDER NIH.....
4. The Thing (Ben)
Menolak dengan alasan DI INDONESIA SUDAH BANYAK ORANG DENGAN KULIT YANG LEBIH TEBAL DARI SAYA. BUKAN HANYA KEBAL PELURU, MALAHAN SUDAH KEBAL MALU SEGALA.
5. Human Torch (Johnny Storm)
Menolak juga sama dengan anggota-anggota Fantastic 4 yang lain, karena BELUM JUGA MULAI BEKERJA, DIA UDAH MENDAPAT PANGGILAN DARI KEJAGUNG KARENA DICURIGAI MENJADI DALANG TERBAKARNYA BEBERAPA PASAR DI INDONESIA.
6. The flash (Barry Allen)
Sebenarnya Allen sudah mempertimbangkan untuk menerima proposal ini, tetapi setelah melakukan survey ke berbagai lembaga pemerintahan dia akhirnya menolak. BAYANGKAN AJA, UNTUK MENDAPATKAN TANDA TANGAN KTP AJA ORANG HARUS MENUNGGU BERHARI-HARI. ITU AJA MASIH SABAR. JADI KESIMPULAN SAYA, ORANG INDONESIA TIDAK MEMERLUKAN SEORANG SUPERHERO YANG MEMILIKI KEKUATAN BERUPA KECEPATAN. KECEPATAN TIDAK ADA ARTINYA BUAT BANGSA YANG ALON-ALON ASAL KELAKON.
7. Superman (Clark Kent)
Sang manusia baja ini menolak dengan sopan, karena SAYA TAKUT DISANGKUTKAN DENGAN TUNTUTAN MELAKUKAN AKSI PORNOGRAFI/PORNOAKS I KARENA CELANA DALAM SAYA DI DEPAN.
8. Aquaman
Merasa tidak kuat setelah mencoba pekerjaan baru di Indonesia , karena LAUTNYA UDAH TERCEMAR LUMPUR LAPINDO
9. Wonder Woman
Pada mulanya, sang peace ambassador dari atlantea ini merasa yakin bisa membantu pemerintah Indonesia. Tetapi setelah pengamatan lebih lanjut, dia akhirnya menolak juga dengan alasan KALO SAYA MATI DI US DALAM MENUNAIKAN TUGAS KAN MASIH BERGENGSI, DIBUNUH MONSTER / VILLAIN. DI INDONESIA BISA-BIASA SAYA MATI DIGREBEK FPI GARA-GARA KOSTUM SAYA YANG SUPER SEKSI INI.
10. Catwoman
Menolak setelah ketakutan mendengar lagu KUCING GARONG.
11. Hulk (Bruce Banner)
Banner menolak karena JALAN-JALAN DI INDONESIA TERLALU SEMPIT UNTUK UKURAN TUBUHNYA. BELUM LAGI KALO NGEJAR VILLAIN SAMPAI KE GANG-GANG PERUMAHAN, NTAR KENA PORTAL, BELUM LAGI DIMINTAI DUIT CEPE-AN. MAU AMBIL DARI MANA???? GW KAN GA PAKE BAJU. BELUM LAGI KALO NYEBRANG JALAN, DISORAKIN DISANGKA SI KOMO.
S : anehdidunia.com
1. Batman (Bruce Wayne)
Bruce Wayne menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan yang terlalu dibuat-buat. ALasan beliau adalah DIA KEBERATAN MENANGGUNG PAJAK IMPOR BAT-MOBILE KE INDONESIA. BAYANGIN AJA PAJAK IMPOR MOBIL MEWAH YANG SELANGIT, APALAGI UNTUK BAT-MOBIL YANG SECANGGIH ITU.
2. Spiderman (Peter Parker)
Parker juga menolak ajakan kerjasama ini dengan alasan DI INDONESIA HANYA ADA SEDIKIT SEKALI GEDUNG TINGGI, YANG MENYULITKAN DIA UNTUK BERGELANTUNGAN DARI GEDUNG KE GEDUNG. KALAUPUN ADA GEDUNG TINGGI, JARAKNYA TERLALU BERJAUHAN, SEHINGGA SANGAT MENYULITKAN. BELUM LAGI SAAT BERGELANTUNGAN, DIA TAKUT KECANTOL KABEL LISTRIK DAN TELEPON YANG BANYAK SEMRAWUTAN DI LANGIT-LANGIT KOTA BESAR INDONESIA
3. Invisible Woman (Susan Storm)
Menolak dengan alasan MINDER. Kemampuan menghilang yang dimilikinya masih jauh kalah dengan kemampuan menghilang orang-orang Indonesia. Berikut wawancara yang dilakukan dengan CNN. SAYA SIH HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SAYA SENDIRI. BANYAK ORANG DI INDONESIA YANG BUKAN HANYA BISA MENGHILANGKAN DIRI SENDIRI, MALAHAN HUTANG, ASSET-ASET NEGARA YANG PERNAH DIKUASAI, SAMPAI HUTANG-HUTANG KORUPSI PUN BISA DIHILANGKAN JUGA. JADI SAYA MINDER NIH.....
4. The Thing (Ben)
Menolak dengan alasan DI INDONESIA SUDAH BANYAK ORANG DENGAN KULIT YANG LEBIH TEBAL DARI SAYA. BUKAN HANYA KEBAL PELURU, MALAHAN SUDAH KEBAL MALU SEGALA.
5. Human Torch (Johnny Storm)
Menolak juga sama dengan anggota-anggota Fantastic 4 yang lain, karena BELUM JUGA MULAI BEKERJA, DIA UDAH MENDAPAT PANGGILAN DARI KEJAGUNG KARENA DICURIGAI MENJADI DALANG TERBAKARNYA BEBERAPA PASAR DI INDONESIA.
6. The flash (Barry Allen)
Sebenarnya Allen sudah mempertimbangkan untuk menerima proposal ini, tetapi setelah melakukan survey ke berbagai lembaga pemerintahan dia akhirnya menolak. BAYANGKAN AJA, UNTUK MENDAPATKAN TANDA TANGAN KTP AJA ORANG HARUS MENUNGGU BERHARI-HARI. ITU AJA MASIH SABAR. JADI KESIMPULAN SAYA, ORANG INDONESIA TIDAK MEMERLUKAN SEORANG SUPERHERO YANG MEMILIKI KEKUATAN BERUPA KECEPATAN. KECEPATAN TIDAK ADA ARTINYA BUAT BANGSA YANG ALON-ALON ASAL KELAKON.
7. Superman (Clark Kent)
Sang manusia baja ini menolak dengan sopan, karena SAYA TAKUT DISANGKUTKAN DENGAN TUNTUTAN MELAKUKAN AKSI PORNOGRAFI/PORNOAKS I KARENA CELANA DALAM SAYA DI DEPAN.
8. Aquaman
Merasa tidak kuat setelah mencoba pekerjaan baru di Indonesia , karena LAUTNYA UDAH TERCEMAR LUMPUR LAPINDO
9. Wonder Woman
Pada mulanya, sang peace ambassador dari atlantea ini merasa yakin bisa membantu pemerintah Indonesia. Tetapi setelah pengamatan lebih lanjut, dia akhirnya menolak juga dengan alasan KALO SAYA MATI DI US DALAM MENUNAIKAN TUGAS KAN MASIH BERGENGSI, DIBUNUH MONSTER / VILLAIN. DI INDONESIA BISA-BIASA SAYA MATI DIGREBEK FPI GARA-GARA KOSTUM SAYA YANG SUPER SEKSI INI.
10. Catwoman
Menolak setelah ketakutan mendengar lagu KUCING GARONG.
11. Hulk (Bruce Banner)
Banner menolak karena JALAN-JALAN DI INDONESIA TERLALU SEMPIT UNTUK UKURAN TUBUHNYA. BELUM LAGI KALO NGEJAR VILLAIN SAMPAI KE GANG-GANG PERUMAHAN, NTAR KENA PORTAL, BELUM LAGI DIMINTAI DUIT CEPE-AN. MAU AMBIL DARI MANA???? GW KAN GA PAKE BAJU. BELUM LAGI KALO NYEBRANG JALAN, DISORAKIN DISANGKA SI KOMO.
S : anehdidunia.com
Filsafat Penciptaan Manusia
Apakah Tujuan dari Penciptaan Manusia?
Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini? Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan timbul? Apakah kita perlu untuk mengetahui; mengapa kita datang dan pergi? Dan untuk mengetahui makna dari semua ini, apakah kita punya kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai konsekuensi dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.
Setiap kali kaum materialis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan). Karena, alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan. Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.
Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa puas dengan kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri. Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menemui jalan buntu. Karena dari satu sisi, ia tahu bahwa pencipta dunia ini adalah Mahabijaksana dan pastilah apa yang Dia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa, walaupun kita tidak tahu akan hal tersebut. Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang. Betapa konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan? Betapa bodoh jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-bangunan itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali? Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang manusia mukmin bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta akal. Ironisnya, para penganut Nihilisme; ketakbermaknaan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua bidang ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan, dan mereka tidak bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan. Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini. Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!
Bagaimanapun, iman pada hikmah Allah Swt. dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang mukmin. Hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh kemampuan kita akan mencoba menyingkapnya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arahnya secara bertahap. Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk pelita yang menerangi jalan yang gelap ini.
Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tujuan tersebut biasanya dalam rangka menutupi kekurangan dan kebutuhan yang kita miliki. Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi. Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan; adakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah Swt. sehingga menciptakan kita untuk menutupi kekurangan itu? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Qur’an kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Dia membutuhkan penghambaan dari kita? Cara berpikir yang demikian ini muncul lantaran komparasi sifat Khaliq dengan makhluk, dan antara yang Wajib dengan yang mungkin. Wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita dalam rangka memenuhi kekurangan ini. Akan tetapi, pada sebuah wujud yang tanpa batas, penjelasan ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud-Nya.
Ia adalah Sang Awal dan Sumber kenikmatan. Segenap makhluk berada dalam genggaman kepedulian, perhatian dan pemeliharaan-Nya. Dia membawa mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan inilah filsafat dari ibadah dan doa kita; dimana semua itu merupakan rangkaian pendidikan bagi kesempurnaan kita. Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk kesempurnaan wujud kita. Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud; dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka. Dan setelah tuntasnya proses kesempurnaan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.
Mengapa Allah tidak Menciptakan Manusia secara sempurna dari Sejak Awal Penciptaannya?
Dasar pertanyaan muncul dari kelalaian terhadap satu hal, yaitu bahwa asas utama kesempurnaan (takamul) adalah kesempurnaan yang dicapai secara ikhtiyârî. Dengan kata lain, manusia melakukan perjalanannya berdasarkan kehendak, dan keputusannya sendiri. Apabila ia berjalan dengan dituntun atau ditarik paksa, ini bukan merupakan sebuah kebanggaan, bukan pula sebuah kesempurnaan. Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.
Oleh karena itu, berbagai ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa apabila Allah swt. menghendaki keseluruhan manusia untuk beriman secara terpaksa, iman demikian ini tidak akan pernah membawa berguna bagi mereka.
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang berada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya ….”
Tujuan dari Kesempurnaan Manusia
Sebagian mengatakan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk kesempurnaan manusia. Akan tetapi, apa tujuan dari kesempurnaan ini? Secara ringkas, jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa kesempurnaan merupakan tujuan akhir, atau dengan ibarat lain, kesempurnaan merupakan tujuan dari segala tujuan.
Penjelasan
Apabilah kita bertanya dari seorang pelajar, “Untuk apa kamu belajar?”, pasti ia akan segera menjawab, “Karena aku ingin melanjutkan pelajaranku sampai ke perguruan tinggi.” Selanjutnya, apabila kita bertanya, “Untuk apa belajar di perguruan tinggi?”, ia akan menjawab, “Karena (misalnya) aku ingin menjadi seorang dokter, atau insinyur yang andal.” Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”
Akhirnya, jika kita bertanya, “Lalu, untuk apa kamu menginginkan kehidupan yang senang dan terhormat tersebut?” Di sini, kita akan melihat bahwa nada suaranya akan menjadi berubah dan menjawab, “Ya … untuk kehidupan yang senang dan terhormat itu tadi.” Tampak bagaimana ia mengulangi apa yang telah dikatakan sebelumnya. Ini adalah dalil bahwa ia telah sampai pada jawaban terakhir. Dengan ungkapan lain, ia telah sampai pada sebuah aktifitas di mana ia tidak akan menemukan jawaban lain selain hal tersebut dan membentuk sebuah tujuan terakhir. Semua ini berkenaan dengan kehidupan materi. Dalam kehidupan maknawi pun masalah akan muncul sebagaimana di atas. Ketika ditanyakan; untuk apakah kehadiran para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, dan kewajiban serta rangkaian pendidikan ini, kita akan mengatakan; untuk kesempurnaan manusia dan taqarrub kepada Allah Swt.
Dan apabila ditanyakan; untuk apakah kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. itu?, kembali kita akan mengatakan; ya, untuk kedekatan kepada Allah Swt. itu sendiri. Dengan demikian, bisa diketahui bahwa tujuan ini merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan manusia. Dengan ungkapan lain, kita menginginkan segala sesuatu yang ada untuk kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kedekatan kepada Allah Swt. adalah tujuan itu sendiri.
Ujian Tuhan Terhadap Manusia
Terdapat banyak pembahasan tentang masalah ujian Ilahi ini. Pertanyaan pertama yang akan muncul di dalam pikiran adalah bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
Jawaban atas pertanyaan penting ini (dapat dipecahkan) dengan merenungkan realita bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah —seperti yang telah dijelaskan di atas— untuk mengenal lebih banyak dan menyingkapkan kejahilan. Akan tetapi, ujian Ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.
Penjelasan
Di dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari dua puluh macam ujian yang telah dinisbahkan kepada Allah Swt. Ini merupakan satu hukum universal dan sunah yang abadi dari Allah Swt. Dia menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak (dan mengubah sesuatu dari wujud potensi [quwwah] menjadi aktual [fi’liyah]) dan —pada akhirnya— untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.
Pada hakikatnya, ujian dari Allah Swt. ini mirip dengan pekerjaan seorang tukang kebun yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam menebarkan biji-biji yang berpotensi di atas tanah-tanah yang telah siap. Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.
Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan yang sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian Ilahi.
Di tempat lain, Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini: “… dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan penjelasan yang penuh makna tentang filsafat ujian Ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perrbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”
Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai olok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplementasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt. memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa. Apabila tidak ada ujian dari Allah Swt., potensi ini tidak akan pernah aktual, dan wujud sebuah pohon yang berbentuk seorang manusia tidak akan pernah membuahkan perbuatan yang nyata. Inilah filsafat cobaan Ilahi dalam logika Islam.
Ditulis oleh : Wisnu Bangun Saputra,
Sumber : filsafat.kompasiana.com
Hanya sedikit individu yang tidak mempertanyakan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Setiap saat terdapat kelompok manusia yang senantiasa lahir di dunia ini, kemudian diikuti oleh kelompok-kelompok lain yang meninggal dunia. Apakah sebenarnya tujuan dari kedatangan dan kepergian ini? Seandainya kita, manusia, tidak hidup di bumi ini, kira-kira bagian alam manakah yang akan rusak? Dan apakah masalah yang akan timbul? Apakah kita perlu untuk mengetahui; mengapa kita datang dan pergi? Dan untuk mengetahui makna dari semua ini, apakah kita punya kemampuan untuk itu? Dan beribu pertanyaan lain sebagai konsekuensi dari pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan memenuhi pikiran manusia.
Setiap kali kaum materialis mengutarakan pertanyaan semacam ini, sepertinya belum ada jawaban (yang dapat memuaskan). Karena, alam materi tidak memiliki akal dan perasaan sama sekali sehingga ia dapat memiliki sebuah tujuan. Dengan alasan inilah, mereka telah meloloskan diri dari persoalan ini dan meyakini bahwa alam penciptaan adalah nihil dan tak bertujuan. Dan betapa sangat menyedihkan apabila manusia melangsungkan hidupnya di seluruh bidang seperti pendidikan, usaha dan kerja, makanan, penyembuhan, kesehatan, olah raga, dan lain sebagainya dengan tujuan yang pasti dan dengan program yang sangat detail, akan tetapi seluruh (sistem) kehidupan (sebagai sebuah kesatuan) yang ada di alam semesta ini adalah nihil dan tidak mempunyai tujuan sama sekali.
Oleh karena itu, bukanlah suatu hal yang mengherankan apabila sebagian mereka setelah melakukan perenungan terhadap persoalan ini, merasa puas dengan kehidupan yang nihil dan tanpa tujuan ini, dan akhirnya mengakhiri hidupnya dengan melakukan bunuh diri. Akan tetapi, ketika pertanyaan ini dipertanyakan oleh seorang penyembah Tuhan kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menemui jalan buntu. Karena dari satu sisi, ia tahu bahwa pencipta dunia ini adalah Mahabijaksana dan pastilah apa yang Dia ciptakan mempunyai sebuah hikmah yang luar biasa, walaupun kita tidak tahu akan hal tersebut. Dan dari sisi lain, ketika ia memperhatikan anggota-anggota tubuhnya, ia akan menemukan tujuan dan filsafat dari setiap bagiannya. Bukan hanya pada anggota-anggota badan, seperti jantung, otak, pembuluh darah, dan urat saraf saja, bahkan anggota-anggota badan lainnya, seperti kuku, bulu mata, garis-garis sidik jari, lekukan telapak tangan dan kaki, masing-masing mempunyai filsafat yang saat ini telah diketahui oleh setiap orang. Betapa konyol jika kita meyakini kebertujuan semua anggota itu, tetapi keberadaan alam semesta (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan? Betapa bodoh jika kita meyakini bahwa setiap bangunan di sebuah kota mempunyai tujuan dan filsafat, akan tetapi bangunan-bangunan itu (secara keseluruhan) tidak tidak memiliki tujuan sama sekali? Apakah mungkin seorang insinyur membangun sebuah bangunan besar yang seluruh ruangan, koridor, pintu, jendela, kolam, dekor, dan lain sebagainya, masing-masing dirancangnya dengan maksud dan tujuan tertentu, tetapi seluruh bangunan itu (sebagai sebuah kesatuan) tidak mempunyai tujuan sama sekali?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang memberikan kepercayaan kepada seorang manusia mukmin bahwa penciptaan dirinya mempunyai tujuan yang sangat agung, yang untuk memahami hal tersebut, ia harus berusaha dan memanfaatkan kekuatan ilmu serta akal. Ironisnya, para penganut Nihilisme; ketakbermaknaan penciptaan ini malah masuk ke dalam semua bidang ilmu-ilmu alam untuk menginterpretasikan beragam fenomena yang ada untuk mencari suatu tujuan, dan mereka tidak bisa duduk tenang kecuali telah mendapatkan apa yang mereka maksudkan. Bahkan, mereka pun tidak bersedia menerima kehadiran sebuah wujud berupa butiran begitu kecil yang berada dalam bagian badan manusia tanpa mempunyai sebuah aktifitas pun, dan mungkin saja mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun di dalam laboratorium penelitian untuk menemukan filsafat dari satu wujud ini. Akan tetapi, ketika sampai pada penciptaan manusia, mereka dengan tegas mengatakan bahwa penciptaannya tidak memiliki tujuan sama sekali.
Betapa sebuah kontroversial yang sangat menakjubkan!
Bagaimanapun, iman pada hikmah Allah Swt. dari satu sisi, dan beragam filsafat yang terdapat pada setiap bagian dari wujud insan pada sisi lain akan membentuk diri kita menjadi seorang mukmin. Hal ini merupakan sebuah tujuan agung dari penciptaan manusia.Saat ini kita harus mencoba mencari apa tujuan tersebut, dan sejauh kemampuan kita akan mencoba menyingkapnya dan setelah itu, kita akan berusaha melangkahkan kaki ke arahnya secara bertahap. Perhatian terhadap satu masalah prinsip akan mampu membentuk pelita yang menerangi jalan yang gelap ini.
Kita senantiasa mempunyai tujuan dalam setiap apa yang kita lakukan. Tujuan tersebut biasanya dalam rangka menutupi kekurangan dan kebutuhan yang kita miliki. Bahkan, apabila kita berkhidmat kepada orang lain atau menuntun tangan seseorang yang mengalami kesulitan dan memberikan jalan keluar dari kesulitan yang sedang dialaminya, atau bahkan dengan melakukan kesetiaan dan ketakwaan, semua ini pun merupakan sebuah cara untuk memenuhi kekurangan-kekurangan maknawi yang ada pada diri kita sehingga kebutuhan-kebutuhan suci kita akan menjadi tercukupi. Dan karena kita sering membandingkan sifat dan perbuatan Ilahi dengan sifat dan perbuatan diri kita, mungkin saja akan memunculkan sebuah pertanyaan; adakah kekurangan yang dimiliki oleh Allah Swt. sehingga menciptakan kita untuk menutupi kekurangan itu? Dan apabila di dalam salah satu ayat Al-Qur’an kita menemukan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk melakukan ibadah dan penghambaan, lalu apa perlunya Dia membutuhkan penghambaan dari kita? Cara berpikir yang demikian ini muncul lantaran komparasi sifat Khaliq dengan makhluk, dan antara yang Wajib dengan yang mungkin. Wujud kita adalah sebuah wujud yang terbatas, maka kita harus melakukan usaha untuk menutupi kekurangan yang ada dan semua amalan kita dalam rangka memenuhi kekurangan ini. Akan tetapi, pada sebuah wujud yang tanpa batas, penjelasan ini tidaklah bisa diterima. Kita harus mencari tujuan perbuatan-Nya dari selain wujud-Nya.
Ia adalah Sang Awal dan Sumber kenikmatan. Segenap makhluk berada dalam genggaman kepedulian, perhatian dan pemeliharaan-Nya. Dia membawa mereka dari kekurangan kepada kesempurnaan. Inilah tujuan hakiki dari penghambaan (‘ubûdiyah) kita, dan inilah filsafat dari ibadah dan doa kita; dimana semua itu merupakan rangkaian pendidikan bagi kesempurnaan kita. Dengan demikian, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan dari penciptaan manusia adalah untuk kesempurnaan wujud kita. Pada prinsipnya, penciptaan merupakan satu langkah menuju kesempurnaan yang sangat agung yang akan membuat ketiadaan menjadi sebuah wujud; dari tidak ada menjadi ada, dan dari nol menuju angka. Dan setelah tuntasnya proses kesempurnaan yang agung ini, tahapan kesempurnaan yang lain akan dimulai dan seluruh program agama dan Ilahi akan berada dalam rute ini.
Mengapa Allah tidak Menciptakan Manusia secara sempurna dari Sejak Awal Penciptaannya?
Dasar pertanyaan muncul dari kelalaian terhadap satu hal, yaitu bahwa asas utama kesempurnaan (takamul) adalah kesempurnaan yang dicapai secara ikhtiyârî. Dengan kata lain, manusia melakukan perjalanannya berdasarkan kehendak, dan keputusannya sendiri. Apabila ia berjalan dengan dituntun atau ditarik paksa, ini bukan merupakan sebuah kebanggaan, bukan pula sebuah kesempurnaan. Apabila manusia menginfakkan satu rupiah dari kekayaannya dengan kesadaran dan kehendaknya sendiri, maka ia telah melangkahkan kakinya ke arah kesempurnaan hakiki. Sementara, apabila orang lain telah dipaksa mengeluarkan berjuta-juta dari kekayaannya untuk diinfakkan, ia tidak akan mengalami kemajuan dalam proses kesempurnaannya, hatta satu langkah sekali pun.
Oleh karena itu, berbagai ayat di dalam Al-Qur’an telah menjelaskan bahwa apabila Allah swt. menghendaki keseluruhan manusia untuk beriman secara terpaksa, iman demikian ini tidak akan pernah membawa berguna bagi mereka.
“Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah semua orang yang berada di muka bumi ini akan beriman seluruhnya ….”
Tujuan dari Kesempurnaan Manusia
Sebagian mengatakan bahwa tujuan penciptaan adalah untuk kesempurnaan manusia. Akan tetapi, apa tujuan dari kesempurnaan ini? Secara ringkas, jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa kesempurnaan merupakan tujuan akhir, atau dengan ibarat lain, kesempurnaan merupakan tujuan dari segala tujuan.
Penjelasan
Apabilah kita bertanya dari seorang pelajar, “Untuk apa kamu belajar?”, pasti ia akan segera menjawab, “Karena aku ingin melanjutkan pelajaranku sampai ke perguruan tinggi.” Selanjutnya, apabila kita bertanya, “Untuk apa belajar di perguruan tinggi?”, ia akan menjawab, “Karena (misalnya) aku ingin menjadi seorang dokter, atau insinyur yang andal.” Ketika kita bertanya lagi, “Untuk apa kamu menginginkan gelar dokter atau insinyur tersebut?” Ia akan menjawab, “Supaya aku bisa melakukan aktifitas-aktvitas yang positif dan memperoleh income yang bagus”, Lalu, “Untuk apa kamu menginginkan income yang bagus itu?” Jawabannya adalah, “Untuk mendapatkan kehidupan yang senang dan terhormat.”
Akhirnya, jika kita bertanya, “Lalu, untuk apa kamu menginginkan kehidupan yang senang dan terhormat tersebut?” Di sini, kita akan melihat bahwa nada suaranya akan menjadi berubah dan menjawab, “Ya … untuk kehidupan yang senang dan terhormat itu tadi.” Tampak bagaimana ia mengulangi apa yang telah dikatakan sebelumnya. Ini adalah dalil bahwa ia telah sampai pada jawaban terakhir. Dengan ungkapan lain, ia telah sampai pada sebuah aktifitas di mana ia tidak akan menemukan jawaban lain selain hal tersebut dan membentuk sebuah tujuan terakhir. Semua ini berkenaan dengan kehidupan materi. Dalam kehidupan maknawi pun masalah akan muncul sebagaimana di atas. Ketika ditanyakan; untuk apakah kehadiran para nabi, turunnya kitab-kitab samawi, dan kewajiban serta rangkaian pendidikan ini, kita akan mengatakan; untuk kesempurnaan manusia dan taqarrub kepada Allah Swt.
Dan apabila ditanyakan; untuk apakah kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. itu?, kembali kita akan mengatakan; ya, untuk kedekatan kepada Allah Swt. itu sendiri. Dengan demikian, bisa diketahui bahwa tujuan ini merupakan tujuan akhir dari kesempurnaan manusia. Dengan ungkapan lain, kita menginginkan segala sesuatu yang ada untuk kesempurnaan dan kedekatan kepada Allah Swt. Akan tetapi, kedekatan kepada Allah Swt. adalah tujuan itu sendiri.
Ujian Tuhan Terhadap Manusia
Terdapat banyak pembahasan tentang masalah ujian Ilahi ini. Pertanyaan pertama yang akan muncul di dalam pikiran adalah bukankah ujian adalah agar kita mengenal seseorang atau segala sesuatu yang kabur dan mengurangi tingkat kebodohan kita? Jika demikian adanya, lalu mengapa Allah Swt. -yang ilmu-Nya telah meliputi segala sesuatu, mengetahui semua rahasia lahir dan batin, mengetahui langit dan bumi dengan ilmu-Nya yang tak terbatas- masih merasa perlu untuk menguji manusia? Apakah ada sesuatu yang tersembunyi bagi-Nya sehingga untuk mengetahuinya Dia harus memberikan ujian kepada manusia?
Jawaban atas pertanyaan penting ini (dapat dipecahkan) dengan merenungkan realita bahwa ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah Swt. sangatlah berbeda dengan ujian-ujian yang ada pada kita. Ujian-ujian yang ada pada kita adalah —seperti yang telah dijelaskan di atas— untuk mengenal lebih banyak dan menyingkapkan kejahilan. Akan tetapi, ujian Ilahi pada dasarnya bertujuan untuk pendidikan.
Penjelasan
Di dalam Al-Qur’an, terdapat lebih dari dua puluh macam ujian yang telah dinisbahkan kepada Allah Swt. Ini merupakan satu hukum universal dan sunah yang abadi dari Allah Swt. Dia menguji manusia dengan tujuan membuat bakat-bakat yang tersimpan nampak (dan mengubah sesuatu dari wujud potensi [quwwah] menjadi aktual [fi’liyah]) dan —pada akhirnya— untuk mendidik para hamba. Sebagaimana baja harus dimasukkan ke dalam tungku pembakaran terlebih dahulu untuk menghasilkan baja yang berkualitas tinggi, demikian juga halnya dengan manusia pun harus ditempa dan dididik terlebih dahulu dengan musibah-musibah yang berat dan kesulitan yang beragam untuk menjadi insan berkualitas baja dan tahan tempa.
Pada hakikatnya, ujian dari Allah Swt. ini mirip dengan pekerjaan seorang tukang kebun yang telah mempunyai banyak pengalaman dalam menebarkan biji-biji yang berpotensi di atas tanah-tanah yang telah siap. Biji-biji ini akan memulai perkembangan dan pertumbuhannya dengan memanfaatkan sumber-sumber alami, dan secara bertahap, ia akan bertahan melawan kesulitan dan perubahan yang ada di sekitarnya, berdiri tegak ketika berhadapan dengan topan besar, dingin yang mematikan dan panas yang membakar sehingga ia melahirkan bunga-bunga yang cantik, atau berubah menjadi pokok pohon yang rimbun dengan buah yang merumpun yang akan bisa membawanya untuk melanjutkan perjalanan hidupnya dalam menghadapi segala kesulitan.
Untuk menghasilkan seorang serdadu yang kuat dan kokoh di medan perang, para tentara dan serdadu harus dibawa ke medan-medan perang buatan, dan meninggalkan mereka di dalam keadaan yang sulit, seperti kehausan, kelaparan, dingin, panas dan kondisi-kondisi kritis, sehingga mereka menjadi serdadu yang kuat dan matang. Inilah yang dinamakan dengan rahasia dari ujian Ilahi.
Di tempat lain, Al-Qur’an menjelaskan hakikat ini: “… dan Allah [berbuat demikian] untuk menguji apa yang ada di dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang berada di dalam hatimu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 154)
Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. memberikan penjelasan yang penuh makna tentang filsafat ujian Ilahi ini dalam ungkapannya: “Dan meskipun Allah lebih mengetahui keadaan spiritual para hamba-Nya daripada mereka sendiri, akan tetapi Dia tetap memberikan ujian kepada mereka untuk menampakkan perbuatan-perrbuatan baik dari perbuatan yang buruk dan sebaliknya, dan ini merupakan tolok ukur perolehan pahala atau siksa.”
Yaitu, karakter yang berada dalam diri insan tidak bisa secara sendiri dijadikan sebagai olok ukur untuk mendapatkan pahala atau siksa. Karakter ini hanya akan bisa dijadikan tolok ukur untuk pahala atau siksa ketika telah diimplementasikan ke dalam perbuatan manusia. Allah Swt. memberi cobaan kepada para hamba-Nya supaya mereka memanifestasikan bakat dan potensi terpendam mereka dalam bentuk perbuatan, dan mengembangkannya menjadi aktual, sehingga bisa ditentukan apakah mereka berhak untuk mendapatkan pahala ataukah siksa. Apabila tidak ada ujian dari Allah Swt., potensi ini tidak akan pernah aktual, dan wujud sebuah pohon yang berbentuk seorang manusia tidak akan pernah membuahkan perbuatan yang nyata. Inilah filsafat cobaan Ilahi dalam logika Islam.
Ditulis oleh : Wisnu Bangun Saputra,
Sumber : filsafat.kompasiana.com
Maroon 5 - Daylight
" Daylight "adalah sebuah lagu yang dilakukan oleh American pop rock Band Maroon 5 .Lagu ini akan dirilis sebagai single ketiga dari empat studio album mereka overexposed(2012). Hal ini ditulis oleh Adam Levine , Max Martin , Sam Martin dan Mason Levy, sementara produksi ditangani oleh Levine, Levy dan Martin.
Lagu mendapat sambutan beragam dari para kritikus musik. Beberapa mengkritik vokal Levine dan menyebutnya sebagai pengisi antara tari-berorientasi lagu di album tersebut, sementara yang lain merasa Coldplay inspirasi dalam akhir paduan suara. Lagu telah memetakan pada Charts ARIA . Hal ini sedang dilakukan pada Tour terlalu terang
dan sekarang coba lihat video nya
rugi kalo ngga playing karena keren abisss
Gagal Tak Perlu Takut
Bicara soal hati manusia, siapa pula yang tidak ingin sukses dalam hidupnya, siapa pula yang tidak ingin berhasil dan tercapai semua keinginannya, semua tentu ingin memilikinya. Namun untuk mencapai semua itu, tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Obsesi dan keinginan yang tinggi juga kerja keras, barulah akan menghasilkan sesuatu dari apa yang kita inginkan. Namun jikapun mudah untuk mendapatkannya, bukan hal yang tidak mungkin jika anda mendapatkannya dengan cara yang salah, atau anda memang sedang beruntung saat itu. Tapi apakah anda yakin akan selalu beruntung ?
Anda pernah dengar ungkapan seperti ini ? “Mulailah dengan satu langkah, dan langkah lain akan segera mengikuti”. Itu benar, jika anda tidak memiliki keberanian untuk memulainya, lalu bagaimana dengan semua harapan dan mimpi-mimpi yang telah anda bangun ? Problemanya, untuk memulai walau hanya satu langkah ternyata memang bukan hal yang mudah. Namun berdiam diri dan berasumsi tanpa adanya upaya untuk bertindak, bukankah hanya akan membuang waktu secara cuma-cuma ?
“Apakah saya bisa dan saya akan berhasil?”, “Apakah saya mampu dan tidak akan pernah gagal ?” Hey ! Just do it ! Arthur Wellesley, seorang negarawan terkenal dari Irlandia berkata, “Hanya satu hal yang saya takuti, yaitu rasa takut”. Dan beliau benar, yang menghentikan langkah anda adalah diri anda sendiri, dan yang membuat anda gagal juga adalah karena diri anda sendiri. Satu lagi, Francis Bacon, seorang hakim dan ilmuwan terkenal dari Inggris berkata, “Tidak ada satupun yang begitu berbahaya selain rasa takut”.
Anda mungkin pernah merasa takut ketika anda salah. Namun jika saja anda mampu mengakui kesalahan dan berusaha memperbaikinya, untuk apa anda takut ? Apakah kesalahan adalah sebuah kegagalan ? Tidak, kita sebagai manusia tidaklah luput dari dosa, begitupun halnya dengan kesalahan. Kita sebagai manusia tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Sebaliknya, saat anda menyadari kesalahan namun tidak berusaha memperbaikinya, anda bukan hanya sekedar gagal namun juga telah menanam kebencian pada diri seseorang yang terluka hatinya.
Anda mungkin pernah merasa takut ketika tidak ada seorang pun disisi anda. Memang benar, yang membuat anda bisa berdiri sampai dengan saat ini adalah karena adanya dukungan seseorang. Namun saat seseorang itu hilang, jangankan untuk mencapai impian anda, untuk mulai melakukannya saja rasanya sulit. Dan inilah yang lalu membuat anda takut, karena tanpanya, anda tidak bisa melakukan apapun. Manusia memang makhluk sosial, tapi bukan seperti ini jalannya. Karena dia berharga dimata anda, maka tunjukkanlah keberhasilan yang anda miliki. Jika tidak, mimpi dan harapan itu sepertinya hanya akan sebatas iklan.
Gagal, tak perlu takut ! Anda mempunyai semangat dan pengalaman hidup yang luar biasa. Mungkin sudah banyak sekali kegagalan yang anda rasakan dan mungkin juga sebagian dari anda sudah sampai pada taraf ragu akan keyakinan diri sendiri, apakah saya masih mampu ? Menurut saya, selama kesempatan itu masih ada, bukan hal yang tidak mungkin bahwa kelak, anda akan berhasil dan lalu berkata, “inilah hasil dari semua kegagalan yang pernah saya alami.”
Kegagalan, akan menjadi pelajaran berharga dimana anda bisa merenungkan kembali tujuan awal anda. Saat pencapaian dirasa kurang memuaskan, anda akan terus menggali ilmu baru agar ini tidak lagi terjadi kedua kali, dan itulah peran sebuah semangat dan motivasi.
Joseph Conrad, seorang penulis ternama dari Inggris berkata, “Hadapilah rasa takut, terus-menerus hadapi, itulah cara untuk memenangkannya”.
Recent post
Recent Posts
Powered by Blogger.



.jpg)




























































